Saturday, September 21, 2013

Perusahaan besar Kodak bangkrut, kalah bersaing dengan Jepang

Kodak
Kodak
Ketika Neil Amstrong menjejakkan kaki ke bulan, ia membawa kamera Kodak untuk mengabadikan kejadian istimewa tersebut. Peristiwa tersebut mungkin sudah menggambarkan kebesaran Kodak, perusahaan yang dibangun George Eastman dan Thomas Edison di masa lalu. Siapa nyana kebesaran Kodak akhirnya berakhir. Pada pertengahan Januari lalu, manajemen Kodak mengajukan permohonan pailit ke pengadilan. Pengajuan pailit ditempuh demi memaksimalkan nilai saham termasuk aset karyawan, pensiunan, dan kreditor. Proses pailit ini juga akan membantu Kodak memaksimalkan aset teknologinya termasuk sistem pencetakan dan paten digitalisasi. Jika dianalisis, kebangkrutan Kodak disebabkan kurang cepatnya mereka dalam melakukan inovasi dari sistem analog ke digital. Mereka terlalu bertahan pada bisnis film seluloid yang menurun tajam tergilas teknologi kamera digital yang lebih praktis. Meski Kodak berhasil mendapatkan kucuran kredit hingga US$950 juta selama 1,5 tahun dari Citigroup untuk memulihkan bisnis mereka, hal tersebut belum juga mampu menolongnya akibat pengeluaran yang telah melampaui batas kredit. Jika di masa jaya dulu Kodak memiliki hampir 60.000 karyawan, kini telah merosot hingga 7000 saja. Nilai pasar pun turun menjadi di bawah US$150 juta. Bandingkan dengan kondisi 15 tahun lalu yang mencapai US$31 miliar. Di tengah kemelut kebangkrutannya, perusahaan yang telah menutup 13 pabrik sejak tahun 2003 ini juga menggugat Samsung. Mereka mengklaim Samsung telah melanggar paten mereka dalam hal digital imaging yang diterapkan pada peranti smartphone dan komputer tablet milik Samsung. Jika tuntutan itu berhasil, Kodak bisa mendapatkan setidaknya US$2 milyar yang sangat berharga di era pemulihan ini. Yang pasti, nasib Kodak kini seperti kisah pendaratan manusia ke bulan: kenangan yang indah namun sulit terulang.

No comments:

Post a Comment